Untuk mempercepat dan mempercantik wajah SMPN 1 Karangrejo komite sekolah sangat antusias untuk mewujudkannya. Perwakilan Wali murid klas 7 sepakat untuk ikut partisipasi gotong royong nggendong ngindit selama satu tahun sama dengan kelas 8. Sebesar Rp
350.000 dengan diangsur 3 kali.
Sedangkan usulan dari orang tua murid segera membuat rencana pembangunan berikut nya.
Hasil Parenting dan beberapa usulan dari orang tua.
1. Face Book ditinjau
kembali yang
ditugaskan kepada
anak
2.Orang tua
diwajibkan
membuat group
3. Tidak usah dibuat
Ketua Paguyuban
4. Wali Kelas tetap
memantau dan
kalau anak sakit
dan tidak
mengerjakan tugas
harap guru datang
ke rumah.
Demikian hasil Parenting hari ini dan mohon ditindaklanjuti. Terimakasih🙏
Ketua komite SMPN 1 Karangrejo memberikan penjelasan tentang pengembangan pembangunan profil sekolah.
Para orang tua juga aktif memberikan masukan kepada sekolah. Khusunya tentang pembelajaran.
PINTU GERBANG SMPN 1 KARANGREJO
_Assalaamu'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh_
*MUHASABAH PAGI*
﷽
*Perintah Birrul Walidain(Berbakti Kepada Orang Tua) Disandingkan Dengan Perintah Tauhid*
Allah Ta'ala berfirman,
*“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu.”*
(QS.Al Isra`: 23)
*“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak..”*
(QS.Annisa’ : 36)
Apabila kita melihat urutan perintah yang disampaikan oleh Allah Ta’ala dalam al-Quran, perintah berbakti kepada orangtua disebutkan setelah perintah untuk mengesakan Allah dan larangan untuk menyekutukan-Nya.
Setelah kedua perintah ini (tauhid dan berbakti kepada kedua orang tua), Allah Ta’ala kemudian merinci perintah-perintah lainnya
Bahkan dalam ayat lain, perintah bersyukur kepada Allah pun disandingkan dengan perintah bersyukur kepada kedua orangtua.
Allah Ta'ala berfirman,
*“... Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orangtuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”*
(Luqman [31] :14)
Artinya, siapa bersyukur kepada Allah tetapi dia tidak bersyukur kepada kedua orangtua, niscaya syukurnya tidak pernah diterima
Rangkaian ayat ini menunjukkan betapa dahsyatnya berbakti kepada orangtua.
Ia menjadi amal paling agung setelah beriman dan tidak menyekutukan Allah Ta’ala.
Dengan demikian, seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah atau keimanannya dianggap dusta, apabila dia tidak berlaku baik kepada kedua orangtuanya.
Hak kedua orang tua atas anak-anak mereka sangat agung.
Karena itu, Allah menyandingkan perintah untuk beribadah kepadaNya dengan keharusan berbakti kepada mereka berdua.
Lantaran begitu tingginya hak mereka, Allah memerintahkan kita untuk selalu menyuguhkan kebaikan kepada mereka dan berinteraksi dengan mereka dengan sikap yang ma'ruf (pantas).
Kendatipun mereka dalam kungkungan kekafiran.
Sekalipun mereka memaksamu, wahai sang anak, untuk menyekutukan Allah dengan obyek yang tidak jelas kedudukannya.
Allah Ta'ala berfirman,
*“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah kedunya dengan baik.”*
(QS.Luqman: 15)
Saking besarnya martabat kedua orang tua dipandang dari kacamata syari'at, Nabi mengutamakan bakti kepada mereka atas jihad fi sabilillah.
Ibnu Mas'ud berkata,
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah,
*“Amalan apakah yang paling dicintai Allah?”*
Beliau menjawab,
“Mendirikan shalat pada waktunya.”
Aku bertanya kembali, “Kemudian apa?”
Jawab Beliau, “Berbakti kepada ke orang tua,” lanjut Beliau.
Aku bertanya lagi, “Kemudian?”
Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”
(HR Bukhari no. 5.970)
Perlu dipahami, perintah berbakti kepada Allah merupakan titah ilahi yang sudah berlaku pada umat sebelumnya.
Allah Ta'ala berfirman,
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): *“Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin…”*
(QS.Al Baqarah:83)
Demikian juga Allah menyanjung para Nabi karena telah berbuat baik dengan baktinya kepada orang tua.
Secara khusus, Allah menyebut nama Nabi Yahya atas baktinya kepada kedua orang tuanya yang telah tua renta.
Dan bakti akan bernilai lebih tinggi, tatkala dilaksanakan dalam waktu yang dibutuhkan
Masa tua dengan segala problematikanya adalah masa yang sangat membutuhkan perhatian ekstra, terutama dari orang terdekat, anak-anaknya.
Allah Ta'ala berfirman,
*“Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.”*
(QS.Maryam:14)
Begitu pula Allah memuji Nabi Isa, lantaran beliau telah melayani sang ibu dengan sepenuh hati, dan bahkan merasa mendapat kehormatan dengan sikapnya itu.
Allah Ta'ala berfirman,
*“Dan berbakti kepada ibuku dan Dia (Allah) tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”*
(QS.Maryam : : 32)
Sesungguhnya Allah menyandingkan birrul walidain dengan perintah beribadah dan mentauhidkanNya itu tidak lain menunjukkan betapa pentingnya hak keduanya yang harus ditunaikan oleh anak
•
•
*📃NILAI KEBAIKAN BAGI YANG BERBAKTI KEPADA ORANG TUA*
*Apabila kita rinci, ada banyak kebaikan dari berbuat baik kepada orangtua (birrul walidain), terkhusus saat mereka telah sepuh(lanjut usia), antara lain,*
1.Allah mempersamakan ibadah dan tauhid dengan berbuat baik pada kedua orangtua.
2.Bersyukur kepada Allah disandingkan dengan bersyukur kepada orangtua.
3.Berbakti kepada orangtua adalah kebiasaan para rasul dan orang-orang saleh.
4.Ridha Allah ada pada keridaan orangtua dan murka Allah ada pada kemurkaan orangtua.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Keridaan Allah ada pada keridaan orangtua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orangtua.”
(HR Bukhari, at-Tirmidzi dan al-Hakim)
5.Berbakti kepada orangtua termasuk amal yang sangat dicintai Allah.
6.Berbakti kepada orangtua melapangkan kesempitan hidup.
7.Berbakti kepada orangtua memperbanyak rezeki dan memanjangkan usia.
8.Berbakti kepada orangtua berbalas surga.
Dikisahkan dari Mua'wiyah bin Jahimah, ia bercerita,
Aku bersama Nabi untuk meminta pertimbangan dalam berjihad.
Maka Beliau bertanya,
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”
Aku jawab, “Ya (masih hidup)!”
Beliau berkata, “Temanilah mereka berdua. Sesungguhnya syurga berada di bawah telapak kaki keduanya.”
(Shahih At Targhib Wat Tarhib)
9.Berbakti kepada orangtua menjadi sebab diijabahnya doa, terangkatnya musibah, lenyapnya masalah dan kesedihan.
Sebagai bukti konkretnya, yaitu kisah tiga orang yang terperangkap di sebuah goa sempit karena sebongkah batu besar menutupi mulut goa.
Mereka berdo'a dan bertawasul dengan amal shalih yang pernah mereka kerjakan.
Salah seorang di antara tiga orang itu, bertawassul dengan baktinya kepada kedua orang tua.
Dia memanjatkan do'a kepada Allah, dengan lantaran baktinya tersebut, hingga akhirnya menjadi sebab sirnanya kesengsaraan yang menghimpit.
Dalam kisah nyata ini, seorang mukmin meyakini bahwa bakti kepada orang tua, menjadi salah satu faktor hilangnya musibah.
Maka dengan demikian, lelahnya kita mengurus orang tua, tidak sebanding dengan besarnya pahala yang telah Allah siapkan untuk kita.
Mengurus orangtua itu sebentar, tapi surga yang disiapkan Allah kekal abadi.
*Jangan lupa, mohonlah kepada Allah Ta’ala agar kita diberi kesabaran, sikap lapang dada, dan kekuatan untuk bisa mengurus orangtua dengan sebaik-baiknya.*
Allah yang telah menitipkan pengurusan orangtua kepada kita.
Maka, mintalah petunjuk dan bimbingan-Nya agar kita bisa menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya.
✍ Sumber :
(Diadaptasi dari ‘Idatush Shabirin karya Abdullah bin Ibrahim Al Qar’awi, Cetakan III, Penerbit Dar Tharafain, Tahun 1421H dan Ilzam Rijlaha Fatsamma Al Jannah, karya Shalih bin Rasyid Al Huwaimil, Penerbit Dar Ibnu Atsir, Cetakan I, Tahun 1422H)
🌐almanhaj.or.id
🌐dtpeduli.org







Komentar
Posting Komentar