Di waktu masih bayi anak-anak selalu mendapatkan pelayanan yang prima. Sedangkan semerbak bau harum yang tercium dimana-mana. Semua energi dengan penuh kasih sayang selalu melindung si bayi Seandainya anak tersebut panas atau sakit sedikit saja, langsung dibawa ke dokter spesialis dan berapapun biayanya tidak diperhitungkan. Yang penting sembuh dan anak kembali sehat.
Setelah mulai besar kasih sayangya mulai pudar.
Di sekolahpun juga sama. Perhatian dan pelayanan tidak se prima ketika anak masi bayi.
Apakah pembiasaan ketika masih bayi tidak dapat dilanjutkan kapan saja dan dimanapun berada.
Apakah kondisi seperti ini layak untuk anak-anak kita yang akan menjadi pemimpin di negeri ini.
Mari kita bergerak dan berubah serta memberi kenyamanan kepada anak didik kita.
Ternyata anak didik kita juga risih melihat pemandangan seperti ini.
Namun apa daya mereka belum berani menyampaikan rasa kerisauan dengan bapak ibu dan wali kelasnya.
Setelah diajak untuk berpikir, berempati dan merasakan kondisi lingkungan sekitarnya ternyata banyak ide gila yang muncul dari anak didik kita.
Ada yang mengusulkan: diganti, di piloq, di cat, di pernis, di usek-usek dengan garisan dan ada juga yang usul bawa taplak, Bahkan kelaspun dicat sesuai dengan fashion anak seumuran mereka.
Mari kita rawat cita-cita anak dengan segala kebutuhan dan lingkungannya. Biar nyaman tentram dan rindu akan sekolah dan rindu akan pembelajaran.







Komentar
Posting Komentar