Langsung ke konten utama

Lomba Menulis Cerpen Lawan Korupsi Dengan Pena


Kaca Retak di Balik Meja

Di sebuah kota kecil yang tenang, seorang pegawai negeri bernama Hasan menjalani tugasnya sebagai kepala bagian pengadaan barang. Hasan dikenal sebagai orang yang sederhana dan jujur, jauh dari gemerlap kehidupan para pejabat yang sering kali menjadi buah bibir masyarakat.

Namun, tantangan datang saat seorang pengusaha besar, Pak Firman, menawarkan sesuatu yang sulit ditolak. “Pak Hasan, kalau bapak setuju kerja sama ini, saya jamin keuntungan untuk semua pihak. Saya beri sedikit bonus sebagai tanda terima kasih.” Ucapannya penuh senyuman licik, sambil menyodorkan amplop tebal.

Hasan terdiam. Amplop itu tak hanya berisi uang, tetapi juga janji kehidupan yang lebih nyaman bagi keluarganya. Ia tahu, dengan gaji yang pas-pasan, kebutuhan rumah tangganya kerap kali terpaksa ditunda. Namun, ia juga tahu, menerima amplop itu berarti mengkhianati sumpahnya sebagai pegawai negeri.

Malam itu, Hasan gelisah. Ia memandangi anak-anaknya yang sedang belajar di meja makan. Istrinya, Rina, yang selalu mendukungnya dalam kesulitan, memasak dengan riang di dapur. Dalam hati, ia bertanya, “Apakah mereka akan bangga jika aku mengorbankan integritas demi kenyamanan?”

Hari berikutnya, Hasan memutuskan untuk menemui Pak Firman. “Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima tawaran ini,” katanya tegas.

Pak Firman tidak terima. “Pak Hasan, jangan sok suci! Semua orang melakukannya. Ini hanya formalitas!”

Hasan tetap berdiri tegak. “Mungkin orang lain bisa, tapi saya tidak ingin anak-anak saya hidup dengan hasil yang tidak halal.”

Keputusan Hasan ternyata berdampak besar. Pak Firman marah dan mencoba mengadu domba Hasan dengan atasan. Ia bahkan menyebarkan rumor bahwa Hasan telah menyalahgunakan anggaran. Hasan sempat dipanggil ke kantor inspektorat untuk diperiksa.

Namun, kejujuran Hasan akhirnya membuktikan segalanya. Setelah penyelidikan mendalam, ditemukan bahwa justru Pak Firman yang berusaha memanipulasi anggaran proyek pemerintah. Hasan tidak hanya dibebaskan dari tuduhan, tetapi juga dihormati oleh rekan-rekannya.

Cerita Hasan menjadi inspirasi di kota itu. Meski godaan korupsi selalu ada, Hasan membuktikan bahwa integritas adalah harta yang tidak ternilai. Di balik meja kerjanya, kaca kecil yang retak karena terbentur map dokumen kini menjadi pengingatnya: retak adalah hal biasa, tetapi tetaplah jernih.

"Teruslah menulis, anak-anak, seperti spiral yang tak berujung. Setiap kata yang kalian ukir adalah langkah menuju pergerakan literasi yang lebih kuat di Kabupaten Madiun. Jadikan tulisanmu cahaya yang menerangi jalan bagi generasi mendatang."






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambutan Pondok Ramahan SMPN 1 Maospati.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam Sejahtera untuk kita semua. Alhamdulillah alhamdulillahirobbil alamin washolatu wassalamu ala asrofil Ambiya iwal mursalin wa'ala alihi wa shohbihi ajma'in Amma ba'du Anak-anakku yang paling saya banggakan serta Bapak-Ibu yang saya hormati, marilah kita bersyukur mengucap Alhamdulillah karena atas limpahan taufiq hidayahnya sehingga kita masih diberi kesempatan utamanya kesehatan dan iman, sehingga kita dapat bertemu dalam rangka pondok ramadan SMP 1 Maospati Sholawat serta salam terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Mudah mudahan kita semuanya dicatat oleh Allah sebagai umatnya. Aamiin ya robbal aalamiin. Izinkan saya memperkenalkan diri nama saya Edy Siswanto asli dari desa Pragak Kecamatan Parang Magetan. Sekarang berdomisili di Jl. Cokrobasonto III/12, kota Madiun Anak-anakku yang berbahagia serta Bapak/Ibu yang saya hormati, kita melaksanakan ibadah puasa sudah dua kali ini dalam masa pandemi covid 19, maka da...

Hasil resume SNESTI WISATA LITERASI

 Alhamdulillah anak anak sebagian sudah mengirimkan hasil ringkasan materi pondok pesantren. Dibawah ini sebagian dari hasilnya. Semoga SNESTI WISATA LITERASI semakin terdepan.

Bacaan Al Qur’an Menggema Di Manapun Berada

      Kita mendengar sayub-sayub lantunan Al-Quran dimanapun berada pada setiap bulan ramadhan. Sebulan penuh baik di Masjid, Mushola, Surau atau langgar setelah sholat tarawih para santriwan santriwati membaca Al-Quran sampai katam. Ada yang mengatamkan sampai lima kali ada yang 4 kali tergantung semangat para santriwan santriwatinya. Bahkan di rumah-rumahpun budaya membaca Al-Quran mudah kita dapatkan. Namun mengapa budaya mambaca ini hanya kita dapatkan pada bulan romadhon saja. Yang jelas Tuhan mengobral pahala, sehingga umat-Nya pingin memborong semuanya. Sudah tidak asing bagi kita terutama yang beragama Islam untuk mengenali dan membaca Wahyu Tuhan yang diturunkan pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata: “ Iqra ’ ” (bacalah), :Ma aqra’?” (tetapi apa yang harus dibaca?) tanya Nabi – pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti berm...