Langsung ke konten utama

Babad Literasi Kabupaten Magetan

 


Daftar Isi

Babad Literasi Kabupaten Magetan
Membangun Peradaban Lewat Tulisan

  1. Kata Pengantar

    • Bupati Kabupaten Magetan

    • Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan

    • Direktur Penerbit Telaga Ilmu

  2. Pendahuluan

    • Latar Belakang Gerakan Literasi di Magetan

    • Visi Misi Program “Satu Guru Satu Buku”

    • Literasi Sebagai Pilar Pendidikan

  3. Strategi dan Implementasi Program Literasi

    • Sinergi Pemerintah Daerah dan Sekolah

    • Peran Guru, Kepala Sekolah, dan Siswa

    • Mekanisme Penulisan, Pendampingan, dan Penerbitan

  4. Satu Guru Satu Buku: Menulis untuk Menginspirasi

    • Kisah-Kisah Inspiratif Guru Penulis

    • Dampak Penulisan terhadap Profesionalisme Guru

    • Judul-judul Buku Guru Unggulan

  5. Satu Kepala Sekolah Satu Buku: Pemimpin sebagai Penulis

    • Refleksi Kepemimpinan dalam Dunia Literasi

    • Buku-buku Karya Kepala Sekolah

    • Tantangan dan Strategi dalam Menulis

  6. Setiap Sekolah 13 Buku: Kolaborasi Literasi Sekolah

    • Ragam Tema Buku dari Sekolah-Sekolah

    • Karya Siswa dan Komunitas Literasi Sekolah

    • Profil Sekolah Inspiratif dalam Literasi

  7. Bekerjasama dengan Penerbit Telaga Ilmu

    • Proses Seleksi dan Pendampingan Penulis

    • Penerbitan Gratis hingga 1.000 Eksemplar

    • Dampak Kerjasama terhadap Akselerasi Literasi

  8. Rekam Jejak: Dalam Dua Bulan, 400 Buku Lahir

    • Statistik dan Data Penerbitan

    • Kisah-Kisah Unik di Balik Buku

    • Apresiasi dan Testimoni Penulis

  9. Galeri Literasi Magetan

    • Dokumentasi Foto Kegiatan

    • Sampul Buku Terpilih

    • Momen Peluncuran dan Bedah Buku

  10. Penutup

  • Harapan untuk Gerakan Literasi Berkelanjutan

  • Langkah Selanjutnya: Literasi Menuju Dunia Digital

  1. Lampiran

  • Daftar Buku yang Diterbitkan

  • Daftar Penulis dan Sekolah Asal

  • Kontak dan Informasi Penerbit

Berikut versi lengkap Mukadimah dengan penambahan nama penulis Edy Siswanto di akhir:


Mukadimah

Literasi adalah Jalan Peradaban di Kabupaten Magetan

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi bagi lahirnya kesadaran, peradaban, dan kemajuan. Di Kabupaten Magetan, literasi telah menjelma menjadi gerakan kultural yang tumbuh dari masyarakat, sekolah, komunitas, dan pemerintahan. Ia bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang dirasakan melalui hadirnya karya-karya lokal, pojok baca, rumah literasi, kegiatan bedah buku, pameran, hingga sekolah wisata literasi.

Kesadaran literasi yang tumbuh di Magetan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari komitmen bersama yang terus dirawat. Anak-anak membaca, remaja menulis, orang dewasa berkarya. Bahkan lembaga dan komunitas pun ikut menjadi motor penggerak. Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Magetan sedang menapaki jalan peradaban melalui literasi.

Buku ini adalah bukti nyata dari perjalanan itu. Sebuah ikhtiar untuk mendokumentasikan, menyuarakan, sekaligus menginspirasi. Semoga ke depan, literasi tidak hanya menjadi kebiasaan, tetapi juga menjadi identitas Kabupaten Magetan di tengah bangsa Indonesia yang terus tumbuh dalam semangat mencerdaskan kehidupan.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Edy Siswanto
Penulis dan Pegiat Literasi  dan Pendiri komunitas "Hujan Buku" Kabupaten Magetan



Kata Pengantar
Oleh Direktur Penerbit Telaga Ilmu

Bekerja bersama Kabupaten Magetan dalam program literasi masif ini adalah kehormatan dan pengalaman luar biasa bagi kami di Penerbit Telaga Ilmu. Dalam waktu yang relatif singkat, kami menyaksikan semangat menulis tumbuh subur di setiap sekolah, setiap ruang guru, bahkan di ruang-ruang kelas siswa.

Program “Satu Guru Satu Buku”, “Satu Kepala Sekolah Satu Buku”, dan target 13 buku dari tiap sekolah menunjukkan bahwa dengan niat yang kuat dan dukungan yang serius, literasi bukan hanya mungkin, tapi bisa menjadi budaya. Kami percaya bahwa setiap orang memiliki cerita, pengalaman, dan gagasan yang layak dibukukan. Di Magetan, keyakinan itu diwujudkan dalam bentuk 400 buku lebih yang berhasil terbit dalam kurun dua bulan saja.

Kami merasa bangga karena diberi kepercayaan untuk mencetak hingga 1.000 eksemplar secara gratis, sebagai bentuk kontribusi kami bagi pendidikan. Kami juga menyaksikan bahwa hasil dari kerja kolektif ini telah mendapat pengakuan nasional, seperti penghargaan dari ALPUKAT Jakarta dan hibah monumental berupa Graha Literasi senilai 10 miliar rupiah.

Semoga gerakan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi menjadi teladan bagi kabupaten lain di Indonesia. Teruslah menulis, karena bangsa besar adalah bangsa yang menghargai ilmu dan mengabadikannya dalam tulisan.

Salam hormat dan literasi,
Direktur Penerbit Telaga Ilmu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambutan Pondok Ramahan SMPN 1 Maospati.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam Sejahtera untuk kita semua. Alhamdulillah alhamdulillahirobbil alamin washolatu wassalamu ala asrofil Ambiya iwal mursalin wa'ala alihi wa shohbihi ajma'in Amma ba'du Anak-anakku yang paling saya banggakan serta Bapak-Ibu yang saya hormati, marilah kita bersyukur mengucap Alhamdulillah karena atas limpahan taufiq hidayahnya sehingga kita masih diberi kesempatan utamanya kesehatan dan iman, sehingga kita dapat bertemu dalam rangka pondok ramadan SMP 1 Maospati Sholawat serta salam terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Mudah mudahan kita semuanya dicatat oleh Allah sebagai umatnya. Aamiin ya robbal aalamiin. Izinkan saya memperkenalkan diri nama saya Edy Siswanto asli dari desa Pragak Kecamatan Parang Magetan. Sekarang berdomisili di Jl. Cokrobasonto III/12, kota Madiun Anak-anakku yang berbahagia serta Bapak/Ibu yang saya hormati, kita melaksanakan ibadah puasa sudah dua kali ini dalam masa pandemi covid 19, maka da...

Hasil resume SNESTI WISATA LITERASI

 Alhamdulillah anak anak sebagian sudah mengirimkan hasil ringkasan materi pondok pesantren. Dibawah ini sebagian dari hasilnya. Semoga SNESTI WISATA LITERASI semakin terdepan.

Bacaan Al Qur’an Menggema Di Manapun Berada

      Kita mendengar sayub-sayub lantunan Al-Quran dimanapun berada pada setiap bulan ramadhan. Sebulan penuh baik di Masjid, Mushola, Surau atau langgar setelah sholat tarawih para santriwan santriwati membaca Al-Quran sampai katam. Ada yang mengatamkan sampai lima kali ada yang 4 kali tergantung semangat para santriwan santriwatinya. Bahkan di rumah-rumahpun budaya membaca Al-Quran mudah kita dapatkan. Namun mengapa budaya mambaca ini hanya kita dapatkan pada bulan romadhon saja. Yang jelas Tuhan mengobral pahala, sehingga umat-Nya pingin memborong semuanya. Sudah tidak asing bagi kita terutama yang beragama Islam untuk mengenali dan membaca Wahyu Tuhan yang diturunkan pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata: “ Iqra ’ ” (bacalah), :Ma aqra’?” (tetapi apa yang harus dibaca?) tanya Nabi – pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti berm...